Assalamu alaikum wr wb.
Semoga kesejahteraan dan keselamatan selalu tercurah bagi kita semua.
Sobat, ane mau sedikit tapi banyak (nah, bingung kan) berbagi cerita tentang "jalan-jalan" ane sehari di Cihanjuang kemarin tanggal 8 Nop.
Ceritanya tuh ane ditugasi "jalan-jalan" ke Cihanjuang oleh Kompeni ane (pinjem istilahnya Om Monang-Saipem), pasnya di CV. Cihanjuang Inti Teknik di Jl. Cihanjuang no 204, Kelurahan Cibabat - Cimahi Utara - Cimahi. ( Cimahi itu ikut Kab. Bandung apa bukan se? )
Ini terkait rencana Kompeni ane mau mengembangkan PLTMH di salah satu kebun yang ada di kaki Gunung Kelud. Naaaa, katanya lagi, di antara sekian banyak kompeni yang bergerak dalam pengembangan atau tepatnya manufakturing PLTMH di Indonesia, ya di CIT atau Cintek inilah yang tingkat inovasinya paling effisien dan membumi. ( Ah, masa iya? ) Makanya ane pun hinggap di situ. Sayangnya Mas Tho'fan - Medion (yang mestinya jadi tuan rumah di Cimahi) malah pas dines ke Lampung, jadi ane ga dapet guide gratisan deh. Btw, mas Ari darmariyadi di mana ya? Ane ga punya kontak personnya se
Pertama kali ane sampe di sana sempat bingung juga, karena bayangan semula ane itu berupa lokasi industri yang ujudnya begitu lah (dibayangin sendiri aja, ya). Kenyataannya, tampak depannya malah seperti deretan rumah-rumah di kota gitu. Lha, tulisan CV-nya saja juga nggak ada. Hanya nomer 204-nya lah yang bikin yakin kalo disitulah lokasinya. Bahkan ruangan pertamanya bukanlah kantor, melainkan suatu showroom sekaligus toko penjualan oleh-oleh berupa minuman Bandrek, Sakoteng, dan lain2. Lho? (Hubungan bandrek sama PLTMH akan dijelaskan berikutnya).
Yang menjadikan yakin bahwa ini kompeni yang kami tuju adalah di ruang tunggu showroom Bandrek itu (yang nyaman karena sejuknya udara dan secangkir bandrek hangat gratis, bahkan boleh nambah) adalah terpampangnya segala macam piagam, sertifikat maupun tanda penghargaan dari banyak instansi, kampus maupun kompeni2, atas keberhasilan Cintek dalam "pengembangan energi yang terbarukan dan bermanfaat sosial ekonomi". bahkan salah satunya berskala ASEAN lho. Boleh juga ya?
Nah, setelah menunggu kurang dari sepeminuman secangkir bandrek (niru gayanya Khoo Ping Hoo, waktu sepeminuman teh) ane dan rekan2 diterima manajer di sana. Sayangnya ndak ketemu sama pak Eddy Permadi si Boss besarnya.
( asal tahu saja, Beliau ini bareng sama DR Ir Eddy Prianto (Undip) mendapatkan anugrah penghargaan di bidang Pengembangan Energi Terbarukan dari Menteri Energi Sumber Daya Mineral yang juga Ketua Dewan Penasehat PII, bersama tujuh insinyur lainnya (termasuk bu tri mumpuni jadi 9 orang) dalam Rapimnas Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan HUT ke-55 PII di Gedung Merdeka, Bandung tanggal 24 mei kemarin.)
Dhess, setelah mendapat presentasi powerpoint ala seminar-seminar gitu, yang mirip nonton Discovery Channel model Bandung TV, kami pun langsung diajak berkeliling ke dalam bengkel kerja mereka.
nah, bisa jadi inilah yang "menyebabkan" Cintek banyak dikunjungi oleh kompeni2 dan instansi2 lain bahkan diburu oleh lulusan2 ITB. Mereka sangat "open manajemen". Di sana kita bisa dengan bebas bertanya, memotret, utak-utik bahkan mencoba segala macam alat yang sedang diproduksi di bengkelnya. Mulai dari proses perancangannya, proses machining spare part (cor, bubut maupun welding) , assembly elektrik-mekanik, sampai dengan pengujiannya yang mesti lolos "Quality Control" staff ahlinya. Tidak ada`yang ditutupi atau dirahasiakan. Di sana juga ada laboratorium alamnya, meski agak terpisah jauh dari bengkelnya, dimana kita secara langsung dapat melihat alat terapannya yang di dasar lembah sungai irigasi Leuwi Layung (di kampung babu girang eh... maaf, maksude Babut Girang, Cimahi Utara), jadi bisa tau persis cara operasionalnya PLTMH mulai dari mengatur dam air, memutar turbin sampai proses penyaluran daya listriknya ke beban, bahkan hal-hal proteksi dan
struktur pekerjaan sipilnya.
Ndak takut dapet saingan ni? Betul, ternyata mereka tidak khawatir bila ada pesaing di pasar yang sama. Bahkan memang untuk indonesia ditunggu untuk segera bermunculan kompeni yang bergerak di sektor ini. Ada yang sudah siap? kali aja ada alumni Undip yang segera mengorbit di sektor ini.
Itu aja daya tariknya? Ndak lah. Selain sebagai kompeni yang "open manajemen" bahkan "open pabrikasinya", Cintek juga memberikan contoh inovasi PLTMH yang segalanya dimulai dari skala kecil (bahkan bisa juga disebut tenaga piko hidro). Inilah nilai plusnya. Cintek saat ini sudah berhasil mengembangkan PLTMH model turbin propeler celup berkapasitas mulai dari 100 watt, hanya dengan sumber air rata-rata 5 liter/detik dan beda head minimal 2 meter, dengan biaya hanya 3 juta rupiah per alat. Paket tersebut sudah lengkap berupa propeler dan generator dalam satu paket (kira-kira ukurannya sedikit lebih kecil dari wadah es krim Walls yang 20rb itu atau panci rantang di rumah), operasionalnya submersible atau dicelup, bahkan dengan garansi daya tahan 5 tahun. Jadi bagi konsumennya, tinggal nyambung dari kabel output yg sudah ada untuk menyalakan misalnya 5 biji lampu SL 18 W. Praktis sekali buat masyarakat yang memang tinggal di pucuk gunung sana. Diitung2 sama
biaya pasangnya PLN, puih, kalah murah deh. (Yang kerja di PLN ga boleh komentar lho, nanti jadi berbales pantun deh)
Cintek juga sudah dipercaya Departemen ESDM, terbukti 2 proyek PLTMH model turbin Crossflow yang dikelola Cintek telah diresmikan langsung oleh Pak Purnomo Yusgiantoro. Bisa dicek ke Mbak Rina Irawati jika perlu.
Selain itu juga dipercaya membuat dan menerapkan 2 buah turbin khusus sistem propeller tubullar yang bisa memproduksi masing2 70 kW, hanya dg debit air 600 liter/detik dan beda head 14 meter, di Gassau - Swiss. Subhanallah!
Di tingkat ASEAN pun sudah punya nama, karena diakui sebagai kompeni "pengembangan energi yang terbarukan dan bermanfaat sosial ekonomi". kenapa demikian? Karena selain usahanya dalam membangkitkan listrik dengan tenaga mikrohidro, Cintek juga berperan aktif menggerakkan warga di lokasi proyek PLTMH-nya untuk terlibat dalam perawatan PLTMH tersebut maupun di dalam pemanfaatan listrik tersebut untuk kegiatan ekonomi. Alhasil, mereka punya banyak binaan home industri yang tersebar di Tasikmalaya, Bandung, Cimahi dan sekitarnya, yaitu berupa kerajinan bordir, mebel, penggilingan padi dan kopi, proyek2 industri pasca panen lainnya, bahkan sampai jadi home industri Bandrek dan Sakoteng yang mereka beri merk Hanjuang.
kebetulan home industri minuman Bandrek dan Sakoteng itu sendiri berlokasi di sebelah bengkel Cintek sehingga ane pun sempat mampir melihat proses produksinya. Wah, wah, mojangnya cantik-cantik euy! Ooops, bukan itu maksudnya. Ternyata dalam home industri Bandrek saja, mereka sudah bisa menyerap sekitar 50 orang warga lokal sekitarnya hanya untuk proses produksi dan pengemasannya. Belum lagi percetakan, transport dan lain2nya. Yang jelas, listrik untuk proses produksinya mulai dari pengering, "nggongso" (bahasa Indonesiane apa ya?), mixing, mencacah dan menghancurkan rempah-rempah bahkan pengemasannya, semuanya produksi sendiri alias GRATIS.
Naaa, terus hubungannya sama Elektro Undip apa dong? Mbulet aja ya dari tadi. Hehehe... Tentu ada lah hubungannya. Ini dia diantaranya.
yang pertama, seinget ane di sebelah utaranya Widya Puraya tuh ada air terjun kecil yang tembusnya nyambung ke lapangan perangnya Arhanud. Atau paling tidak sungai Tembalang di bawahnya Fakultas peternakan atau utaranya LPPU. Kira-kira itu punya nilai potensi nggak ya untuk dikembangkan jadi laboratorium terapan mikrohidro di Undip? Coba deh dosen Lab Konversi Energi-nya diajak diskusi. Pasti jawabannya IYA. Kalo soal dananya, au ah gelap.
yang kedua, melihat kinerja Cintek yang open manajemen seperti itu, apa ndak eman-eman kalo rekan2 yang masih aktif di kampus, atau khususnya yang juga warga Priangan, sampai melewatkan untuk menoleh dan hinggap sejenak menggali ilmu di sana. Insya Allah itu jadi modal kuat dalam memahami konversi energi. Apalagi Cintek juga memberi kesempatan kursus kepada umum untuk proses metalurgi maupun elektrikal-mekanikalnya. (Pas kebetulan bareng kunjungan ane itu ada 2 orang alumni ITB Teknik Penrbangan yang mau kursus pengecoran disitu). wah, pasti deh adik2 akan lebih siap memasuki dunia kerja nanti. minimal, dapet secangkir bandrek gratis. Hehe...
Yang ketiga, kabarnya kita-kita ini kan "agen of change", bener nggak sih? Lha, kalo mengingat TDL PLN yang hampir saja diancam dinaikkan terkait naiknya harga minyak dunia, apa bukannya sudah terlambat kita saat ini jika tidak segera melirik tenaga Mikrohidro sebgai "renewable" energi yang buuuuanyak tersedia di bumi Indonesia ini? masak harus nunggu Malaysia nge-klaim Mikrohidro sebagai budaya energinya?
Coba deh direnungkan, barangkali lumayan buat ngisi waktu kosong daripada bengong gak ada bacaan yang lain.
Wassalamualaikum wr wb.
Btw, buat yang di kampus, ane minta tolong dong diceritain tentang DR Ir Eddy Prianto yang barusan dapat penghargaan untuk desain rumah hemat energi. Siapa beliau dan bagaimana konsep rumah hemat energi yang beliau desain tersebut. Terima kasih sebelumnya.


